Jumat, 26 Juli 2019

Setelah Rival, apa?


Kabar Rival dikontrak manajemen Borneo FC tentu menjadi kabar gembira bagi pemain muda di tanah Congka Sae. Bagi saya, kabar ini tentu menjadi pintu masuk bagi pemain muda berbakat Manggarai Timur lainnya. Terkait kabar gembira ini, saya punya dua catatan yang perlu kita ketahui bersama. Kesatu, kehadiran coach Ricky Nelson di gelaran ETMC Malaka 2019 tentu menjadi kabar gembira bagi pesepakbola muda berbakat NTT.


Bola Manggarai
bolamanggarai.com


Kehadirannya jelas yakni memantau pemain muda berbakat yang nantinya memperkuat tim sepak bola Pra PON NTT menuju PON Papua tahun depan. Selain memantau pemain muda, kehadiran coach Ricky ternyata lebih dari pada itu. Relasi emosial antara Coach Ricky dan Borneo FC; tim yang pernah ia bawa menjuarai Piala Presiden, pada akhirnya menjadi pintu masuk bagi pemain muda NTT untuk memperkuat tim usia muda Borneo FC. 

Hal ini benar adanya. Saat gelaran ETMC berlangsung, ada pihak dari Borneo FC yang hadir langsung di Malaka. Rival menjadi pemain pilihan tim pemandu bakat ini. Bayangkan saja, dari sekian banyak pemain muda di ETMC Malaka kali ini, Rival terpilih untuk mengikuti trial di Malang. Kedua, karir Rival baru dimulai. Dari beberapa sumber berita yang saya dapat, Rival tidak langsung memperkuat tim Borneo FC U-20. Rival harus menunggu hingga putaran kedua di Liga 1 U-20 musim 2019/2020. 

Ini adalah sebuah babak baru bagi Rival. Sebagai pemain belakang, tentu kehadiran Rival dapat menambah kekuatan tim Borneo FC U-20 di putaran kedua nanti. Ini yang kita harapkan dari Rival. Setidaknya kehadirannya dapat membuka jalan berikutnya, memperkuat tim senior Borneo FC. 


Setelah ini, apa?


Pertanyaan ini tentu menjadi pekerjaan rumah bagus kita semua. Tanpa Anda sadari, kesuksesan Rival ini berawal dari penampilannya di ETMC Malaka. ETMC berlangsung, Rival menampilkan permainan yang memukau, tim pemandu bakat Borneo hadir dan menyaksikan langsung penampilan Rival. Tim pemandu bakat tertarik dan pintu karir Rival terbuka. Pertanyaannya ialah apakah kita harus menunggu ETMC tahun 2021 untuk melihat penampilan pemain muda berbakat NTT lainnya? Pertanyaan ini tentu akan menjadi pertarungan kita semua, masyarakat sepak bola Manggarai Raya.

Bagi saya pribadi, kita tidak perlu menunggu sampai tahun 2021. Dua tahun ke depan merupakan waktu yang cukup untuk terus membenahi wajah sepak bola di tempat kita masing-masing. Patokannya Rival. Tentu kita percaya, masih banyak pemain muda berbakat lainnya yang penampilan di lapangan hijau sama bahkan melebihi Rival. Hanya memang Rival memiliki panggung yakni ETMC. 

Untuk itu, jika kita percaya masih banyak pemain muda berbakat lainnya, mari kita beri panggung bagi mereka. Apa anda bingung tentang panggung yang saya maksudkan? Saya punya dua ide visoner terkait panggung ini. Dua panggung tersebut ialah adakan turnamen berjenjang dan "jual" pemain berbakat. Tentang turnamen berjenjang, saya berpikir tujuan turnamen berjenjang jelas. Selain menambah jam terbang pemain, para pemain dapat mengasa skil dan kemampuannya. 

Beruntungnya, turnamen berjenjang memberi peluang bagi pemain untuk bertemu pemain dari luar daerahnya; sebut saja antar kabupaten dan provinsi. Anda bisa bayangkan, jika sang pemain rutin mengikuti beberapa turnamen berjenjang sebut saja Aqua Danone Nation Cup dan Liga Pelajar Piala Menpora (KU-12, KU-14 dan KU-18), maka saya dapat pastikan pada saat sang pemain mencapai puncak performa pada usia 23 tahun atau 26 tahun, mereka tetap akan bertemu lawan yang sama.

Contoh paling sederhana di gelaran ETMC. Jika mereka selalu bertemu selama enam tahun yang akan datang, saya yakin mereka akan bertemu kembali di ETMC tahun 2023. Hal ini tentu menjadi keuntungan bagi tim yang diperkuat sang pemain. Belum lagi jika kita bicara turnamen berjenjang yang memberi peluang kepada tim muda untuk berpartisipasi  di Seri Nasional tentu lawan yang  dihadapi mewakili provinsinya. 

Lepas dari peluang akan bertemunya para pemain yang rutin mengikuti turnamen berjenjang, bagi saya jelas turnamen berjenjang memberi peluang kepada para pemain untuk berkembang mengikuti penambahan usia. Dari KU-12 berlanjut ke KU-14 hingga KU-16. Kita bisa pastikan, kita akan memiliki tim yang tangguh pada usia 16 tahun yang telah berproses sejak usia 12 tahun. Tentang turnamen berjenjang, saya berpikir jelas peruntukannya. 

Saat ini turnamen berjenjang dapat kita ikuti melalui program yang diadakan pemerintah dan pihak swasta. Pemerintah sendiri menginisiasi adanya Liga Pelajar Piala Menpora dan pihak swasta menurut yang saya ketahui berupa gelaran Aqua Danone untuk KU-12 tahun. Bagi saya pribadi, kita juga perlu mengadakan turnamen berjenjang secara mandiri. Artinya, turnamen berjenjang yang kita ikuti mengikuti waktu turnamen berjenjang yang diadakan oleh pemerintah. 

Artinya jika turnamen berjenjang yang kita adakan tidak memberi peluang adanya seri kabupaten, seri provinsi maupun seri Nasional, maka turnamen berjenjang yang kita adakan dapat menjadi persiapan pembentukan tim untuk kemudian  mengikuti turnamen berjenjang yang diadakan pemerintah.

Kedua, menjual pemain berbakat. Cara ini sederhana, kita dapat memanfaatkan waktu di awal musim Liga 1, Liga 2 maupun Liga 3. Biasanya, tim-tim besar akan mulai memantau pemain muda berbakat di berbagai tempat untuk bergabung. Salah satunya yang kemudian dilakukan oleh Borneo FC di gelaran ETMC yang lalu. 

Nah, dari pada harus menunggu ETMC 2021, bagi saya kita harus menjemput bola. Artinya, kita harus mengirim pemain muda berbakat yang kita miliki mengikuti seleksi di tim-tim besar Liga1, Liga 2 bahkan Liga 3. Sehingga poin "menjual pemain" ini masih berkaitan dengan poin pertama tadi; turnamen berjenjang. Artinya dengan adanya turnamen berjenjang, kita akan muda memantau pemain muda berbakat yang layak untuk "dijual".

Terkait "menjual pemain" ini, kita mesti mempersiapkan anggaran yang cukup. Kita tidak bisa berharap tim pemandu bakat untuk hadir di kampung kita. Artinya kita mesti realistis dengan situasi bahwa seleksi pemain selalu diadakan di kota Provinsi. Dalam konteks NTT, klub Bali United misalnya selalu mengadakan seleksi pemain di Kupang. 

Untuk kita, kita mesti mempersiapkan anggaran khusus untuk mensiasati hal ini. Persiapan anggaran semestinya dilakukan dari sekarang. Sehingga pada saat kabar adanya seleksi pemain dari tim besar Indonesia, kita sudah siap untuk memberangkatkan pemain kita. 

Di akhir tulisan ini, saya kembali ingin meyakinkan kita semua bahwa kita tidak perlu menunggu hingga ETMC 2021 untuk mendengar  kabar adanya pemain muda NTT lainnya  yang dikontrak klub Liga 1. Kita bisa memulainya dari tim kita sendiri. Peluang selalu ada melalui kompetisi berjenjang. Selain itu kepastian adanya seleksi pemain muda selalu terbuka. Apalagi saat ini PSSI sudah menyelenggarakan Liga 1 U-16, Liga 1 U-18 dan Liga 1 U-20. Ini peluang bagi kita semua. Kapan lagi kalau bukan sekarang. 

Mari berGerak bersama...


Evan Lahur
Inter Milan Club Indonesia (ICI)
Regional Ruteng


EmoticonEmoticon